Penanaman Bambu di Mojokerto
Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) kembali melakukan kolaborasi bersama Pemerintah Kabupaten Mojokerto, Perumdam Mojopahit dan sejumlah organisasi pegiat lingkungan, antara lain Wahana Edukasi Harapan Semesta (WeHasta), Aliansi Air Majapawitra, dan Panti Vila Doa Yatim Sejahtera dalam aksi penanaman dan pembersihan sumber resapan air. Masyarakat setempat juga terlibat dalam aksi yang dilakukan di kawasan Sumber Jubel, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Selasa (30/12/2025).
Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra menegaskan kegiatan reboisasi dan pembersihan sumur resapan ini merupakan bentuk kepedulian sosial pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas dan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Penanaman difokuskan pada jenis tanaman yang memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air, seperti bambu. Ribuan bambu di tanam beserta tanaman lain seperti sukun, durian, mengkudu, dan sirsak di sekitar sumber mata air bersejarah tersebut.
Sisyantoko, selaku Koordinator Kegiatan Penanaman, mengatakan Sumber Jubel merupakan daerah sumber air vital yang telah dimanfaatkan sejak masa kolonial Belanda. Bahkan, pada tahun 1927, sumber air ini tercatat pernah mengaliri wilayah Sidoarjo, Jombang, hingga Surabaya. Namun, saat ini debit airnya telah mengalami penurunan.
“Saat ini debit airnya telah menurun cukup signifikan, dari semula sekitar 90 liter per detik menjadi hanya 42 liter per detik. Keberadaan sumber ini harus dijaga kelestariannya, terutama melalui penanaman pohon.” kata Sisyantoko.
Sementara itu, Al Barra mengatakan aksi tersebut merupakan alternatif atas penurunan debit karena konversi lahan dan pertumbuhan pemukiman yang terus meningkat. Penanaman ini menjadi aksi penting untuk pengembangan pengetahuan lokal dengan tujuan konservatif.
Peran bambu akan menjadi alternatif revitalisasi sumur resapan. Untuk itu ia menyampaikan keterlibatan dalam perawatan kolaboratif melalui konsep pentahelik atau hexahelik.
“Bibit yang sudah ditanam membutuhkan perawatan, dan sumur resapan yang telah dibersihkan juga harus dikontrol secara berkelanjutan. Tanpa perawatan, upaya ini tidak akan memberikan hasil maksimal,” terangnya.
Mewujudkan hal tersebut, Sahlan Junaedy perwakilan dari YBLL, turut memberikan edukasi lingkungan dan mengkapanyekan peran vital bambu sebagai penjaga lingkungan. Ia berharap melalui edukasi ini, peserta yang terlibat dapat menyebarluaskan kepada masyarakat dan generasi muda.



